Bicara Tentang Cerita Cita-Cita Bag. 2

Kali ini saya disadarkan lebih jauh tentang maksud bapak yang bilang, “Cuma basah-basahin bibir, tangannya nggak bergerak, kakinya nggak melangkah, apalagi otak..cuma hati yang sibuk.” Ternyata maksud bapak adalah agar saya tidak panjang angan-angan dan khayal seperti kaum Yakjuj dan Makjuj. Kaum yang condong kepada ilusi mental menuruti hawa nafsu.

Letak kesalahan saya dalam bercita-cita dan memiliki impian adalah hanya bermimpi. Iya, bermimpi dan hanya bermimpi. Saya lupa untuk mengusahakan prosesnya dan hanya berdoa –Pasif.

Cita-Cita
wallpaperwide [dot] com
Petang itu, menjelang saya kembali ke tempat perantauan di kampung orang. Keadaannya agak sendu, baru selang sehari saya ikut interview kerja di salah satu bank swasta di Tangerang, masih belum ada panggilan lebih lanjut.

Sebelum berhasil keluar dari pintu rumah, bapak dengan khas juteknya menitipkan pesan, “Impian hanya akan jadi mimpi jika tanpa usaha. Dan usaha akan menghasilkan sama tanpa memberi lebih.” Kembali bapak melengoskan pandangannya ke depan TV.

Sekilas saya bisa menangkap maksud bapak, “Iya pak! Doakan saja bisa mempraktikannya dengan baik.” Jawab saya sambil tersenyum waktu itu, sebari mencium tangan Bapak dan Ibu untuk berpamitan.

Sehari sebelumnya saya diajak mengobrol cukup lama sebari mengerjakan kesibukan kami masing-masing. Bapak bilang, “Doa tanpa usaha itu nothing sementara usaha tanpa doa itu lupa.” Lanjut kata beliau, “Sekarang, cobalah menuliskan impian-impianmu, buat visi dan misimu untuk mencapainya, buat juga target-targetmu dalam setahun, atau kalau perlu tiap minggu dan tiap bulannya.”

Waktu SMA, saya pernah tidak sopan membaca buku catatan bapak waktu masih bujang. Di dalamnya jelas dia tulis apa impiannya dan apa target-target yang ingin Ia capai setiap tahun. Saya sempat tersenyum haru waktu itu, menemukan bahwa setiap target yang Ia ingin capai benar-benar terwujud. Persis seperti apa yang ia tulis. Mulai dari keinginannya untuk jadi guru, sampai pada keinginan agar semua anaknya bisa kuliah.

“Visi itu penting, agar kita tidak lupa alasan kenapa kita ingin mencapai impian. Misi itu perlu, supaya kita bisa tahu apa-apa saja yang perlu kita lakukan untuk mencapai impian. Sementara target itu berguna, agar kita bisa memberi toleransi batasan waktu kapan kita trigger dan kapan kita harus sudah mendapatkannya." Kata bapak waktu itu.

Saatnya saya menulis, diambil kertas dan bertafakkur sendirian dalam kamar. Kembali mengingat impian-impian yang tersebar kesana-kemari. Menuliskannya secara detail dan lengkap. Visi, misi, dan target…saya catat, saya ingat, dan siap saya bumikan.

Selesai! Sekarang adalah saatnya untuk mencoba sekali lagi --membuktikan bagaimana hebatnya kesungguhan usaha dan doa dalam mencapai Impian.





Cita-citaku setinggi langit
kadang berat terasa pahit
akan ku kejar sampai aku bisa
Cita-citaku di angkasa
tolong diam dulu disana
tunggu aku datang menghampirimu

Endank Soekamti, Cita-Cita

4 komentar

Nurul Imam 13 September 2013 04.50

Intinya jangan cuma berfikir, kita harus action buat mengejar cita2 kita

Om Jon 13 September 2013 08.25

Bener banget..dreams & actions!

Anonim 15 September 2013 00.13

Lanjutkan om! Kisahnya inspiratif saya banget!

Om Jon 15 September 2013 06.26

Terimakasih bang/mba anonim siapapun nama dan bagaimanapun wujudnya! Pokoknya, terimakasih :D

Poskan Komentar

Ajak om Jon ngobrol dooong! #colekdikit

Labels